Apakah Open Source Pilihan yang tepat

Bagi sebagian orang memilih platform teknologi informasi dan komunikasi (TIK) tak ubahnya memilih jodoh. Tidak jarang mereka melibatkan preferensi yang dibumbui dengan idealisme untuk menentukan platform mana yang paling sesuai. Seperti halnya jodoh yang dipilih sekali seumur hidup, pemilihan platform TIK juga memerlukan pertimbangan yang matang. Walaupun tidak seekstrim seperti memilih jodoh, berganti-ganti platform TIK bukan tindakan yang bijak karena pada umumnya setiap perpindahan platform akan melibatkan proses migrasi yang tidak sederhana dari segi kompleksitas proses maupun biaya yang diperlukan.

Detik.com dalam salah satu artikelnya yang dapat diakses melalui url detik_com memberitakan gerakan beberapa pemkot untuk menggunakan IGOS yang berbasis open source sebagai basis platform untuk sistem informasi dan telekomunikasi mereka. Pemilihan IGOS ini tentunya memiliki banyak dampak positif sejalan dengan semangat Indonesia Go Open source yang digaungkan oleh pemerintah melalui Depkominfo. Tetapi menurut saya alasan pemilihan platform open source harus benar-benar dicermati apakah memang timbul karena kesadaran bahwa penggunaan platform ini bisa memberikan keuntungan sesuai yang diharapkan dan sesuai dengan tujuan instansi yang menggunakannya, ataukah hanya karena latah mengikuti program IGOS yang telah dihembuskan sebelumnya.

Berikut ini beberapa fakta yang bisa dijadikan referensi untuk memilih software open source.

Open source mendukung HAKI

Penggunaan open source pada dasarnya merupakan upaya untuk meningkatkan penggunaan software legal secara luas di kalangan masyarakat. Hal ini bisa dicapai karena pada umumnya software open source berharga lebih murah, bahkan gratis, dibandingkan dengan software sejenis yang berplatform proprietary. Dengan fenomena ini, masyarakat bisa mendapatkan software yang di perlukan dengan harga terjangkau tanpa harus berbuat curang dengan menggunakan software proprietary bajakan. Semangat penggunaan software legal ini seharusnya menjadi salah satu alasan utama untuk memutuskan pemilihan platform open source sebagai basis TIK. Tentu saja, platform open source bukan satu-satunya pilihan untuk mendapatkan software legal. Dalam hal tersedia cukup anggaran untuk memperolehnya, penggunaan software komersial yang disertai fitur yang menguntungkan juga bisa menjadi pilihan yang menjanjikan.

Opensource ≠ Gratis

Walaupun saat ini kebanyakan software open source yang beredar di pasaran bersifat gratis atau free, tetapi sebenarnya platform open source tidak identik dengan kata gratis. Open source tidak selalu gratis. Pada kenyataannya mungkin saja ditemukan software open source yang di bandrol dengan harga tertentu oleh produsennya untuk meng-cover biaya produksi dan development. Salah satu produk open source yang tidak gratis adalah sistem operasi Mandriva yang merupakan salah satu distro Linux. Selain itu mungkin saja vendor open source menggratiskan biaya perolehan software tetapi mengenakan biaya service atas dukungan teknis terhadap software tersebut. Menurut salah satu penelitian di Jepang, Penggunaan platform open source belum tentu menghasilkan total penggunaan anggaran yang lebih rendah daripada penggunaan platform proprietary. Hal ini mungkin terjadi apabila dukungan teknis yang berasal dari komunitas ataupun vendor software yang bersangkutan tidak bisa didapatkan dengan baik pada saat-saat krusial. Keadaan ini justru berpotensi untuk mengurangi produktivitas pengguna.

Open source berkaitan dengan pengembangan aplikasi

Sesuai dengan istilahnya, open source, yang berarti kode yang terbuka, merupakan konsep distribusi aplikasi atau software dengan menyertakan kode sumber dan atau dokumentasi dari software yang bersangkutan. Berbagai jenis lisensi yang ada di dunia open source menentukan seberapa jauh pengguna akhir memiliki privilege atas kode sumber yang disertakan, misalnya lisensi untuk melakukan modifikasi terhadap kode sumber, menggunakannya dalam kode lain, sampai lisensi untuk mendistribusikan kode tersebut kepada pengguna lain. Artinya open source selalu berkaitan dengan upaya pengembangan aplikasi. Saya yakin tidak semua pengguna aplikasi memiliki kepentingan dan kompetensi atas aktivitas – aktivitas yang mungkin bisa dilakukan terhadap kode sumber yang di sertakan. Dengan demikian label open source sebenarnya tidak selalu relevan dengan kebutuhan pengguna akhir suatu software atau aplikasi tertentu.

Berdasarkan pertimbangan di atas, prinsip dasar dari pemilihan platform TIK yang aman dan tepat guna adalah teliti sebelum membeli dengan mengabaikan gembar-gembor pihak lain yang bersifat subyektif dan provokatif. Pemilihan platform yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan organisasi atau instansi merupakan investasi yang berpotensi memberikan keuntungan strategis dalam jangka panjang.

–jurnaltejo.wordpress.com, ditulis untuk tugas etika profesi pranata komputer–

Advertisement

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.