Teman-teman seruangan ribut soal preferensi OS apa yang dipakai. Penting nggak sih? Mas Sudi, si LinuxFreak, nggak pernah berhenti memasang muka aneh setiap saat mendengar sound startup dari komputer windows ku. Sebaliknya aku yang sebenarnya nggak mau ikutan terpolarisasi jadi merasa mual setiap kali mendengar sound ubuntu startup completed dari laptop di sebelah. Dunia qt sudah terbagi menjadi dua kubu, Windows dan Ubuntu. Berawal dari OS merembet ke semua aplikasi yang nangkring di atasnya. Mulai Office suite sampai browser yang dipakai.
Pada suatu hari, kubu Linux tertawa terkekeh-kekeh saat jaringan qt terkena network attack dari virus yang ngendon di salah satu komputer berbasis windows. Mereka bersorak-sorak saat qt ribut upgrade windows service pack, nginstal personal firewall and removal tool. Well, usaha patching nggak sia-sia, untuk sementara serangan bisa diatasi. Kita jadi bisa beralibi, “Semakin banyak serangan, semakin berpengalaman, tantangan itu untuk diadepin bro”. Mereka menanggapinya ringan saja “Apa enaknya idup dengan virus”, damn!!.
Roda terus berputar, nggak selamanya yang hari ini tertawa, akan tertawa lagi besok. Bermula saat Game Worm Armagedon lagi ngetrend di ruangan ini. Semuanya addicted dengan cacing-cacing yang nggemezin itu. Tak ketinggalan para linuxer juga. Tapi Sayangnya (ato untungnya.. >_<) game ini nggak ada versi linuxnya. Apa daya para linuxer harus rela hati numpang di komputer berbasis windows supaya bisa gabung maen di jaringan. Besok nya mereka mulai nginstal virtual box di atas ubuntu mereka. Semua cara dilakukan, demi sang cacing. Kita windows user hanya bisa tersenyum.

Pragmatis
Aku bukan penganut setia windows. Alasan kenapa sampai saat ini aku masih bertahan menggunakan OS ini sederhana saja, karena masih ada jauh lebih banyak orang lain di luar sana yang juga make windows desktop dibanding dengan yang make ubuntu. Bukan nggak punya pendirian, tapi dengan make teknologi yang banyak di pake orang lain, dokumen yang ku buat di komputerku akan dengan mudah di buka di komputer lain. Kamu nggak mau kan, file presentasi yang udah dicopy dari dosen nggak bisa dibuka di komputermu. Alasan lain adalah bahwa MS Office 2007 juga masih lebih bagus dibanding office suite lain yang ada di linux. Tambahan lagi kurasa linux masih katro urusan digital music processing. Aku juga nggak yakin linux juga udah punya driver untuk audio interfaceku si EMU 0404. Kalaupun ada sepertinya belum maksimal, sementara software musik pastinya butuh performa maksimal dari hardware, driver dan softwarenya. Intinya lom ada urgensi buat ku untuk pindah ke Linux. That’s just simple reason.
Bukan berarti aku antipati terhadap teknologi linux. Nggak di pungkiri linux relatif aman terhadap serangan. Jadi aku sih oke aja saat server file dan printer sharing menggunakan OS linux, nggak perlu kuatir untuk share folder dengan full permission.
Teknologi tinggalah teknologi. Nggak perlu dijadikan ideologi. Pilihlah yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kesenangan mu. Kamu juga boleh melirik ke yang lain bila tiba-tiba ada teknologi lain yang lebih bisa memuaskanmu. Secara, teknologi memang bukan pacar yang akan menusuk kamu dari belakang bila kamu selingkuh
.
Iya apa nggak?
apa….,
loh, ditanyain iya apa nggak kok njawabnya apa, ,…
tulisannya keren juga jo :p
Nabung point di blog — POW — point oriented writing, tq commentnya ya ,..
Whiii langsung tunjuk nama neh… sadis…
Apa jadinya ya kalo windows tidak disupport oleh para vendor hardware..
Apa jadinya jika aplikasi-aplikasi yang ada tidak dibuat untuk windows…
Tapi buktinya linux tanpa didukung oleh vendor hardware, software tidak didedikasikan untuk linux buktinya kini office 2007 suda bisa dipake, installasi OS gak perlu install driver yang butuh waktu…
Windows mampu gitu gak, sekali install langsung OK semuanya, gak usah install driver deh…
Sebenarnya ini masalah waktu aja. karya ribuan orang pasti akan lebih baik daripada hasil karya satu orang.
Pis broo…
when that time come then tinggal instal ubuntu deh , simple kan
btw, linux is great anyway, but linux user are typically s*** with their close minded ideology, no offence, thats quite ironic when open source soft used by close minded user. peace