Tabel Binomial dalam gadget mu

23-October-2009 - One Response

[required base knowledge:Statictics2,Java Programming]

Senin sore, kelas statistik, dosen menerangkan beberapa metode untuk menghitung probabilitas binomial. Nilai probabilitas binomial bisa dihitung menggunakan metode rangkaian percobaan, formula binomial dan menggunakan referensi tabel binomial.

rumus binomial

rumus binomial

“Sekarang, kerjakan soal probabilitas binomial pada soal latihan satu. Yang bisa mengerjakan kurang dari 5 detik akan saya tambah 3 poin”. Kata Pak Dosen. Yeah, senjata klasik  dosen adalah tawar menawar poin.

“Yaelah pak, mengeluarkan kalkulator dari tas saja butuh waktu 3 detik”, celetukku dalam hati. Jarum panjang jam berpindah lima kali dan tidak ada satupun yang bisa menyelesaikan soal tersebut dalam waktu yang ditentukan. Tiga poin yang ditawarkan pun menguap.

“Saya tidak menyuruh kalian mengerjakan menggunakan kalkulator, sekarang coba buka handout kalian dan buka halaman terakhir.” Dia berkata lagi. Ku buka handout pada halaman terakhir, di situ terdapat serangkaian tabel matematika, diantaranya adalah tabel binomial. Tabel tersebut berisi serangkaian angka yang menunjukkan besaran nilai probabilitas binomial. Terang saja, dengan menggunakan tabel tersebut, kita hanya perlu mencari kolom baris nilai yang dicari berdasarkan nilai X (peristiwa sukses) dan nilai p (kemungkinan sukses).

Aku sedikit menggerutu, di tengah belantara gadget yang semakin canggih, masih ada ya metode berhitung  kuno dengan menggunakan berlembar-lembar referensi tabel yang di print dengan font kecil-kecil seperti itu.

Finally aku terpikir untuk membuat tool sederhana untuk menghadirkan table matematika di handphone menggunakan teknologi Netbeans Mobility. Tool ini bakal menjadi aplikasi mobile pertamaku.

Ternyata ada beberapa tantangan mendasar dalam bekerja dengan aplikasi java mobile (J2ME). Pertama, J2ME dikemas sekecil mungkin, jadi secara default hanya menyertakan package-package yang sangat terbatas. Perhitungan matematika yang tersedia pun sangat terbatas. Kamu akan kesulitan untuk menghadirkan hitungan pemangkatan (Math.power()), atau  operasi matematika lain seperti factorial dan pemformatan desimal. Semua keterbatasan tersebut membuatku senewen. Operasi matematika yang bisa dengan mudah dilakukan di lingkungan J2SE (desktop environtment), tidak tersedia secara default pada paket J2ME (java mobile). Akhirnya setelah browsing sana-sini dan dengan sedikit trik akal-akalan, kebutuhan operasi matematika pun bisa dilakukan.

Detail pemrograman tabel matematika ini akan ku bahas dalam tulisan selanjutnya. Kode program nya juga telah saya upload di mediafire, bila kamu tertarik untuk belajar pemrograman Java mobile, silahkan download melalui urlnya. Mean while, since I m either a newbie in mobility world, then jika kamu punya masukan silahkan posting melalui comment.

url code binomial statistics netbeans project

Jika kamu sedang mengikuti kelas Statistik II, then kamu bisa coba instal program ini ke handphone mu. Download file .jad dari link dibawah langsung dari browser handphone kamu, ikuti proses installasainya. Well, aku belum menguji tool ini bisa berjalan pada tipe handheld apa  saja. Yang pasti spesifikasi handphone yang diperlukan adalah handphone yang mendukung java MIDP 2.0. Aku menggunakan menggunakan handphone bersistem operasi Windows Mobile 6.1 Samsung C6625.

download aplikasi binomial statistics table

Still, aku ga yakin kalo dosen kamu bakal mengijinkan kamu menyalakan handphone saat ujian mid semester ataupun UAS. Kecuali dia cukup open minded terhadap teknologi. Secara, tool ini hanya menggantikan kertas-kertas tabel yang menyakitkan mata itu kedalam handphone di genggamanmu.

Tutorial penggunaan tool tabel matematika ini akan saya posting dalam tulisan berbeda. Saat ini, tool ini hanya berisi tabel binomial dan tabel poison, aku sedang mengeksplore cara menghitung probabilitas Gausian (distribusi Normal) – yang sepertinya melibatkan kalkulus -skil yang currently i dont have , tabel present value dan YTM (untuk mat kul Manajemen Keuangan).

Enjoy!!!

Apakah Open Source Pilihan yang tepat

23-July-2009 - Leave a Response

Bagi sebagian orang memilih platform teknologi informasi dan komunikasi (TIK) tak ubahnya memilih jodoh. Tidak jarang mereka melibatkan preferensi yang dibumbui dengan idealisme untuk menentukan platform mana yang paling sesuai. Seperti halnya jodoh yang dipilih sekali seumur hidup, pemilihan platform TIK juga memerlukan pertimbangan yang matang. Walaupun tidak seekstrim seperti memilih jodoh, berganti-ganti platform TIK bukan tindakan yang bijak karena pada umumnya setiap perpindahan platform akan melibatkan proses migrasi yang tidak sederhana dari segi kompleksitas proses maupun biaya yang diperlukan.

Detik.com dalam salah satu artikelnya yang dapat diakses melalui url detik_com memberitakan gerakan beberapa pemkot untuk menggunakan IGOS yang berbasis open source sebagai basis platform untuk sistem informasi dan telekomunikasi mereka. Pemilihan IGOS ini tentunya memiliki banyak dampak positif sejalan dengan semangat Indonesia Go Open source yang digaungkan oleh pemerintah melalui Depkominfo. Tetapi menurut saya alasan pemilihan platform open source harus benar-benar dicermati apakah memang timbul karena kesadaran bahwa penggunaan platform ini bisa memberikan keuntungan sesuai yang diharapkan dan sesuai dengan tujuan instansi yang menggunakannya, ataukah hanya karena latah mengikuti program IGOS yang telah dihembuskan sebelumnya.

Berikut ini beberapa fakta yang bisa dijadikan referensi untuk memilih software open source.

Open source mendukung HAKI

Penggunaan open source pada dasarnya merupakan upaya untuk meningkatkan penggunaan software legal secara luas di kalangan masyarakat. Hal ini bisa dicapai karena pada umumnya software open source berharga lebih murah, bahkan gratis, dibandingkan dengan software sejenis yang berplatform proprietary. Dengan fenomena ini, masyarakat bisa mendapatkan software yang di perlukan dengan harga terjangkau tanpa harus berbuat curang dengan menggunakan software proprietary bajakan. Semangat penggunaan software legal ini seharusnya menjadi salah satu alasan utama untuk memutuskan pemilihan platform open source sebagai basis TIK. Tentu saja, platform open source bukan satu-satunya pilihan untuk mendapatkan software legal. Dalam hal tersedia cukup anggaran untuk memperolehnya, penggunaan software komersial yang disertai fitur yang menguntungkan juga bisa menjadi pilihan yang menjanjikan.

Opensource ≠ Gratis

Walaupun saat ini kebanyakan software open source yang beredar di pasaran bersifat gratis atau free, tetapi sebenarnya platform open source tidak identik dengan kata gratis. Open source tidak selalu gratis. Pada kenyataannya mungkin saja ditemukan software open source yang di bandrol dengan harga tertentu oleh produsennya untuk meng-cover biaya produksi dan development. Salah satu produk open source yang tidak gratis adalah sistem operasi Mandriva yang merupakan salah satu distro Linux. Selain itu mungkin saja vendor open source menggratiskan biaya perolehan software tetapi mengenakan biaya service atas dukungan teknis terhadap software tersebut. Menurut salah satu penelitian di Jepang, Penggunaan platform open source belum tentu menghasilkan total penggunaan anggaran yang lebih rendah daripada penggunaan platform proprietary. Hal ini mungkin terjadi apabila dukungan teknis yang berasal dari komunitas ataupun vendor software yang bersangkutan tidak bisa didapatkan dengan baik pada saat-saat krusial. Keadaan ini justru berpotensi untuk mengurangi produktivitas pengguna.

Open source berkaitan dengan pengembangan aplikasi

Sesuai dengan istilahnya, open source, yang berarti kode yang terbuka, merupakan konsep distribusi aplikasi atau software dengan menyertakan kode sumber dan atau dokumentasi dari software yang bersangkutan. Berbagai jenis lisensi yang ada di dunia open source menentukan seberapa jauh pengguna akhir memiliki privilege atas kode sumber yang disertakan, misalnya lisensi untuk melakukan modifikasi terhadap kode sumber, menggunakannya dalam kode lain, sampai lisensi untuk mendistribusikan kode tersebut kepada pengguna lain. Artinya open source selalu berkaitan dengan upaya pengembangan aplikasi. Saya yakin tidak semua pengguna aplikasi memiliki kepentingan dan kompetensi atas aktivitas – aktivitas yang mungkin bisa dilakukan terhadap kode sumber yang di sertakan. Dengan demikian label open source sebenarnya tidak selalu relevan dengan kebutuhan pengguna akhir suatu software atau aplikasi tertentu.

Berdasarkan pertimbangan di atas, prinsip dasar dari pemilihan platform TIK yang aman dan tepat guna adalah teliti sebelum membeli dengan mengabaikan gembar-gembor pihak lain yang bersifat subyektif dan provokatif. Pemilihan platform yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan organisasi atau instansi merupakan investasi yang berpotensi memberikan keuntungan strategis dalam jangka panjang.

–jurnaltejo.wordpress.com, ditulis untuk tugas etika profesi pranata komputer–

putri solo riwayatmu kini

11-July-2009 - 2 Responses

[this is a short-meaningless-romance-story about a beautiful  song by tangga, and a nice girl who really love it, let's call her putri-solo, listen the complete song on imeem]

She love this song, I bet every girl love it. Be My Wife (tangga), is always emotional song, even if u pop out the lyrics, it will make you flow within the beautiful music. Or even when you read it without the tone, it will just become a meaningful poem.

“Imagine, a guy sing it for me” she said one day.

“What about this, a prince riding white unicorn, stop by next your door and sing it”, I reply.

“White unicorn ?, hmm, I would prefer white-cute-jazz. he he he” she chuckled, she always laugh.

One night, I called her, played this song in piano and string layer. She listened and dropped the tears, humming in the background sometimes. Yeah, it’s always an emotional song regardless you mean it or not.

“Please don’t play that anymore, unless you mean it” she said.

Time moving, then I knew that she was no longer reachable. Then I stop it, i should stop it, could i?…  :(

Still, thanks for every beautiful moment, for the stories, for the late night conversations, for the jokes, for the laugh, for every song sung, for the weird voice and else. It all flashed me with soft bright unique color into my mind. And it will always stay there.

what a tough morning today

3-July-2009 - 5 Responses

[cerpen ini berisi cerita fiktif tapi nggak terlalu fiktif, tokohnya ada yang hasil karangan, and ada yang beneran pernah hidup di muka bumi ini. iseng disela-sela diklat. Enjoy,...]

Tut tut tut tut, … alarm hape ku berteriak panjang untuk yang ke sepuluh kalinya sejak jam lima kurang seperempat tadi. Untuk yang kesepuluh kalinya juga aku berusaha menjangkau tombol snooze dan hampir menjatuhkan segelas air putih di sampingnya. Kali ini kubuka sedikit sebelah mataku dan melirik jarum panjang di digital clock di hape yang sudah menunjuk angka tiga.

“Oh my God !!!, that’s too late”, gumamku sembari melesat menyambar handuk dan facial foam yang ada di meja. Udah terlalu telat untuk mencoba mandi penuh, jadi kuputuskan untuk mempercayakan facial-foam favoritku, yang lagi gencar diiklanin oleh afgan dan yang konon bisa membuat wajah bersinar, untuk meng-quick treatment area muka. “Nanti kalo sempet, mandinya di kantor aja” pikirku sambil menyemprotkan sebanyak mungkin parfum. Semuanya dalam kecepatan tinggi dan aku udah di dalam setelan blazer nggak lebih dari lima belas menit. Rekor!.

Dengan setengah berlari aku melesat menuju halte Busway di ujung jalan. “Liissaaaa !!” teriakku agak tertahan. Kulihat ada Lisa, teman se-SMU ku yang kebetulan bekerja di dekat kantor sedang manyun nunggu giliran busway. “Hi Lia, jam segini baru nongol?”, kata lisa saat menoleh kearahku. Matanya masih sipit, bukan karena micin (mirip cina) tapi karena muka dia kelihatan masih bau bantal. Kurasa dia bangun kesiangan, just like me. “Iya lis, semalem ga bisa tidur, huhh”, kataku nyari alasan molor sekenanya. Beruntunglah, walaupun hari ini dimulai dengan tidak sempurna, kehadiran lisa cukup menghibur, lumayan, dapet temen telat, he he he.

Kalo Kamu belum tau, nama ku Lia. Aku sedang menjalani tahun ke 23 pengembaraanku di muka bumi ini. Aku bekerja di salah satu perusahaan asuransi di daerah sudirman. Orang bilang kawasan sudirman adalah daerah perkantoran elit. Jadi aku nikmati saja label “bekerja di daerah elit”  itu. Padal sebenarnya nggak ada bedanya. Hari gini yang paling penting berapa duwit yang kamu bawa pulang tiap bulan, he he.

Aku nggak pernah telat ngantor. Semuanya berawal saat ada seorang teman ku, yang sebenernya aku juga belum lama kenal, yang menjengkelkan, nggak tau diri dan nggak tau kira-kira, nelpon malem-malem, cuman buat ngobrol. Anehnya aku feel fun aja, bahkan saat jam udah hampir menunjuk jam satu dini hari, aku nggak pengen protes dia udah merampok jam istirahatku. Mungkin karena dia orangnya juga fun, smart and tau banyak hal, jadi diajak ngobrol apapun nyambung and ngerti. Mulai dari soal kuliahanku dulu di psikologi, soal keluarga sampe lagu-lagu faforit. Untungnya dia udah mulai turun watt-nya juga. Aku perlu beberapa menit untuk jatuh tertidur sejak dia berhenti menelepon.

Nggak terasa, busway yang kutumpangi melambat di daerah ratu plasa. Aku bersiap-siap turun. Masih tersisa lima menit-an sebelum hand recognition di kantor expired. Telat absen berarti potong gaji dua persen. Lumayan, mending dipakai buat nonton atau nongkrong di Mc D. “Ok lis, aku masih ada spare time buat absen, jadi aku mau langsung cabut kekantor” kata ku sambil bergegas nyebrang ke arah kantor. “Sip, aku juga mau sprint nih, biar kekejar absennya juga, CU lunch time” dia membalas sambil ngacir.

Ku jatuhkan tubuhku di kursi kantor. Masih ada beberapa PR yang harus segera kukerjakan, Segera mandi di toilet, dan beresin meja yang masih berantakan gara-gara kemarin buru-buru pulang. Sobekan tisu kotor dan bungkus aqua kosong nggak akan membantuku menaikkan mood kerja. What a Tough Morning Today

-writen by tejo (jurnaltejo.wordpress.com)-

Fanatisme Teknologi

23-June-2009 - 4 Responses

Teman-teman  seruangan ribut soal preferensi OS apa yang dipakai. Penting nggak sih? Mas Sudi, si LinuxFreak, nggak pernah berhenti memasang muka aneh setiap saat mendengar sound startup dari komputer windows ku. Sebaliknya aku yang sebenarnya nggak mau ikutan terpolarisasi jadi merasa mual setiap kali mendengar sound ubuntu startup completed dari laptop di sebelah. Dunia qt sudah terbagi menjadi dua kubu, Windows dan Ubuntu. Berawal dari OS merembet ke semua aplikasi yang nangkring di atasnya. Mulai Office suite sampai browser yang dipakai.

Pada suatu hari, kubu Linux tertawa terkekeh-kekeh saat jaringan qt terkena network attack dari virus yang ngendon di salah satu komputer berbasis windows. Mereka bersorak-sorak saat qt ribut upgrade windows service pack, nginstal personal firewall and removal tool. Well, usaha patching nggak sia-sia, untuk sementara serangan bisa diatasi. Kita jadi bisa beralibi, “Semakin banyak serangan, semakin berpengalaman, tantangan itu untuk diadepin bro”. Mereka menanggapinya ringan saja “Apa enaknya idup dengan virus”,  damn!!.

Roda terus berputar, nggak selamanya yang hari ini tertawa, akan tertawa lagi besok. Bermula saat Game Worm Armagedon lagi ngetrend di ruangan ini. Semuanya addicted dengan cacing-cacing yang nggemezin itu. Tak ketinggalan para linuxer juga. Tapi Sayangnya (ato untungnya..  >_<) game ini nggak ada versi linuxnya. Apa daya para linuxer harus rela hati numpang di komputer berbasis windows supaya bisa gabung maen di jaringan. Besok nya mereka mulai nginstal virtual box di atas ubuntu mereka. Semua cara dilakukan, demi sang cacing. Kita windows user hanya bisa tersenyum.

cacing

Pragmatis

Aku bukan penganut setia windows. Alasan kenapa sampai saat ini aku masih bertahan menggunakan OS ini sederhana saja, karena masih ada jauh lebih banyak orang lain di luar sana yang juga make windows desktop dibanding dengan yang make ubuntu. Bukan nggak punya pendirian, tapi dengan make teknologi yang banyak di pake orang lain, dokumen yang ku buat di komputerku akan dengan mudah di buka di komputer lain. Kamu nggak mau kan, file presentasi yang udah dicopy dari dosen nggak bisa dibuka di komputermu. Alasan lain adalah bahwa MS Office 2007 juga masih lebih bagus dibanding office suite lain yang ada di linux. Tambahan lagi kurasa linux masih katro urusan digital music processing. Aku juga nggak yakin linux juga udah punya driver untuk audio interfaceku si EMU 0404. Kalaupun ada sepertinya belum maksimal, sementara software musik pastinya butuh performa maksimal dari hardware, driver dan softwarenya. Intinya lom ada urgensi buat ku untuk pindah ke Linux. That’s just simple reason.

Bukan berarti aku antipati terhadap teknologi linux. Nggak di pungkiri linux relatif aman terhadap serangan. Jadi aku sih oke aja saat server file dan printer sharing menggunakan OS linux, nggak perlu kuatir untuk share folder dengan full permission.

Teknologi tinggalah teknologi. Nggak perlu dijadikan ideologi. Pilihlah yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kesenangan mu. Kamu juga boleh melirik ke yang lain bila tiba-tiba ada teknologi lain yang lebih bisa memuaskanmu. Secara, teknologi memang bukan pacar yang akan menusuk kamu dari belakang bila kamu selingkuh ;) .

Iya apa nggak? 

apa….,

loh, ditanyain iya apa nggak kok njawabnya apa, ,…

Home Digital Recording

22-June-2009 - 11 Responses

Sudah lama pengen bisa memanfaatkan komputer sebagai sequencer untuk mengolah musik digital (midi recording). Dengan bantuan komputer plus  layarnya yang relatif   lebar, pastinya bisa lebih leluasa dalam melakukan proses pengolahan musik, dibanding bila hanya dengan memanfaatkan built in sequencer yang biasanya tersedia di keyboard-keyboard dengan spec yang cukup canggih.

Ternyata untuk menyulap laptop menjadi sequencer station itu nggak sesimple yang dibayangkan. Awalnya kupikir yang dibutuhkan cuman konektor usb to midi buat nyambungin keyboard ke komputer plus nginstall software sequencer semacam sonar atau cubase. Ternyata ngandalin usbmidi konektor aja memang nggak cukup, ada alat lain yang harus ditambahkan, which is Audio Interface.

Audio interface itu sebuah alat tambahan yang membantu komputer untuk berurusan dengan audio. Komputer jaman  sekarang biasanya sudah mempunyai alat pemrosesan suara sendiri, namanya soundcard.  Sebenarnya audio interface itu ya soundcard juga. Bedanya Audio Interface itu jenis soundcard untuk keperluan yang lebih professional, misalnya untuk digital recording. Sebaliknya, kebanyakan soundcard bawaan komputer hanya memiliki kemampuan standar untuk memutar (playback) file-file audio standar, misalnya mp3, wav dsb.

Tanpa menggunakan Audio Interface, pada saat recording di software sequencer, suara yang dihasilkan nggak bisa real time. Bila kamu memencet tuts keyboard sekarang, mungkin suaranya baru akan keluar satu jam kemudian. Yeah, pastinya nggak selama itu, tapi recording dengan kondisi latency seperti itu pasti bikin frustrasi.

Akhirnya, Setelah nabung beberapa bulan, Audio Interface yang rata-rata harganya nggak murah itu bisa kebeli juga. Dapetnya EMU – 0404 USB 2.0 keluaran Creative. Kata yang jual, EMU ini adalah audio interface yang paling bagus di kelasnya. Dia Berusaha meyakinkanku dengan membandingkan dengan beberapa produk lain. Ya ya ya, percaya boz, secara emang sama yang jual udah di demokan. Si EMU dia sambungan dengan keyboard controller yang dia punya. Hasilnya membuatku takjub. Setiap not yang dipencet di keyboard controller, suaranya langsung keluar di speaker komputer pada saat itu juga. Bener-bener realtime!.

Kalo kamu kebetulan tertarik dengan digital recording, berikut ini adalah contoh susunan peralatannya. Tunda dulu deh keinginanmu buat beli blackberry ato gadget lain. Budgetnya bisa di alokasikan ulang buat beli Audio Interface plus sekalian keyboard controllernya. ;) . Tar kalo udah pada jago bikin musiknya, bisa langsung upload n share kreasinya lewat imeem, setuju ?

 

Susunan Peralatan Untuk Midi Recording

Susunan Peralatan Untuk Midi Recording

Keterangan:

  1. Keyboard controller disambungin ke laptop pake usb to midi konektor, kebetulan aku make roland 2000, ya emang jadul, prinsipnya manfaatkan yang ada di depan mata dulu.
  2. Audio Interface disambungin ke laptop menggunakan native connectornya, bisa menggunakan USB atau firewire, tergantung feature Audio Interface, EMU 0404 menggunakan USB
  3. Main out dari Audio Interface disambungkan ke speaker
  4. Kalo mau menggunakan Head Phone, jack audio headphone bisa langsung di colokkan ke konektor phone pada audio interface.

small does matter

19-June-2009 - Leave a Response

It’s not about size, it’s about the spirit of process. Since every big things consist many small ones.

People said, if you want to walk a thousand steps,  take the first one, and step now. If you want to achieve the big dream, then do small action first, and do it now.

Yes, this is my first action on wordpress, my first page on my journal, leading next pages of everything that i can share as contribution to humanity.

But it’s not about me. Ini bukan gue banget!. Seperti halnya kamu dan hampir semua orang yang numpang di muka-nya bumi ini, aku nggak suka proses n lebih suka yang instan-instan aja: pengen ini dapet ini, pengen itu dapet itu. Nggak pake pusing-pusing, tinggal gesek, bukan nggesek kartu kredit (yang limitnya cuman cukup buat beli nasi rawon sepiring), tapi nggesek lampu ajaib.

Tapi kita tau duong yang seperti itu kan hanya ada di dunianya jin lampu. Duniaku dan duniamu beda. Semuanya perlu usaha dan perjuangan. Dimulai dari yang kecil, sedikit demi sedikit lama-lama nggak penuh-penuh. Kapan penuh nya kalo cuman dikit-dikit, yang keluar lebih banyak dari yang masuk (kita ngomongin apa sih?) –  kidding >.<.

Yang kecil itu berarti, seperti yang dibilang sahabatku, si  js (Jesus the Saviour):  “He who is faithful in a very little thing is faithful also in much; and he who is unrighteous in a very little thing is unrighteous also in much.”

Let this campaign works on me n u.

-be faith on small thing, than the bigger will be in your arm-

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.